Hidup Normal Itu Nikmat :)

Hidup "normal" itu nikmat. Itulah yang saya rasakan sekarang. Untuk orang lain mungkin biasa, tapi untuk saya yang sekian tahun hidup "abnormal" kembali menjadi manusia normal dengan jam kerja yang jelas dan ritme hidup yang teratur sungguhlah sebuah anugerah.

Tentu saja ke"abnormal"an itu berbuah berbagai hal yang tidak biasa juga. Perjalanan-perjalanan menakjubkan, bertemu dengan banyak tokoh ternama, dan mengalami peristiwa-peristiwa besar. Menyenangkan sekaligus membanggakan.

Tapi cukup sudah semua itu. Saya sudah lelah dengan segala hiruk pikuk itu. Kebanggaan semu yang semakin terasa membelenggu. Saat ini saya memiliki prioritas lain dalam hidup yang baru saja berpijak diatas relnya. Hidup yang sedang melaju kencang dengan sederet masa transisi yang harus dilalui ini membutuhkan investasi untuk merawatnya agar mesinnya berjalan dengan baik, meskipun dihela dengan kecepatan tinggi. Investasi itu berupa waktu.

Waktu untuk bersama. Waktu untuk berbagi. Waktu untuk saling mengenal lebih dekat. Waktu untuk duduk dan merencanakan akan seperti apa kehidupan kami kelak. Untuk saya ungkapan "yang penting kan waktu yang berkualitas" hanyalah sebuah dalih atas ketidakmampuan seseorang memenuhi jatah waktu yang cukup. Kuantitas dan kualitas akan waktu yang dipersembahkan untuk manusia-manusia terkasih menurut saya adalah sama pentingnya. Waktu yang berkualitas dengan kuantitas yang cukup adalah kunci untuk merawat mesin kehidupan dengan seimbang.

Disinilah saya sekarang, di sebuah kantor yang memberikan waktu kerja yang jelas dan normal. Bukan berarti saya bisa pulang sore teng pukul 5. Saya tak pernah keberatan untuk pulang malam dimanapun saya bekerja, untuk saya malah aneh pulang kantor ketika langit masih terang. Tapi minimal di sini ini saya bisa meninggalkan kantor dengan hati tenang. Tak perlu was-was akan ada panggilan mendadak yang mengharuskan saya kembali ke kantor untuk mengerjakan sesuatu yang sifatnya diluar jadwal.

Akhir pekan pertama kemarin saya lalui dengan lelaki tercinta itu. Berenang, jalan-jalan, makan makanan Menado, berbagi cerita dan menuntaskan rindu yang teredam oleh jarak ribuan kilometer selama tiga minggu. Sungguh menyenangkan menyaksikan handphone yang anteng tanpa dering. Sepi tanpa keriuhan yang membuat mulut mengomel panjang pendek ataupun hati yang dongkol.Tak ada sms ataupun suara seseorang yang menyuruh saya untuk beranjak dari kenikmatan akhir pekan itu. Damai, tentram, hidup begitu indah tanpa usikan.

Banyak yang menyayangkan dan mempertanyakan pilihan saya meninggalkan tempat terhormat itu. Tapi hidup hanyalah masalah pilihan. Dan saya memilih untuk hidup damai dan bahagia, meski tanpa embel-embel menjadi bagian dari komunitas tertinggi itu lagi.

                            

Time To Go Back..

Hanya tiga hal yang membuat saya ingin pulang ke Jakarta. Lelaki Dayak tercinta itu, pekerjaan baru lengkap dengan kantor baru berjendela dan kolega-kolega baru, serta rumah baru yang akan saya tempati seiring kepindahan lokasi kantor tempat saya bekerja.Lainnya tak ada yang membuat saya ingin kembali ke Jakarta. Saya ingin menetap dan tinggal seterusnya di sini saja, di Portland.

Portland berhasil membuat saya jatuh cinta sejak satu jam pertama menginjakkan kaki di kota ini.Rekan seperjalanan, Wisnu dari KCM pun senasib seperti saya, terpikat berat dengan kota ini.

Dari semua kota yang kami kunjungi sebelumnya, Washington DC-Indianapolis-Orlando-Minot, Portland lah yang berhasil mengambil hati kami hingga ke jantung dan isi kepala. DC kota yang sibuk, meskipun tetap menarik dan menggoda hati, tapi DC adalah kota yang mahal. Saya harus memastikan mendapatkan pekerjaan yang membayar saya sangat baik disini. Sedangkan kampus di wilayah sini tak ada yang menarik minat saya untuk kemudian meneruskan sekolah S2 disini. Museum dan bangunan-bangunan artistik, metro dan distrik Dupont Circle tempat saya tinggal seminggu memang nyaman dan menyenangkan. Saya pasti akan selalu kembali ke DC untuk menengok museum-museumnya yang hebat itu.

Indianapolis kota yang biasa saja untuk saya. Tak ada kesan yang mendalam, datar, tak ada hal yang membetot perhatian dengan signifikan. Di Indy saya hanya asik bolak-balik ke outlet Victoria Secret dan Bath and Body Work, dan belanja keperluan lain-lain yang bisa didapat dengan harga miring di TJ Maxx dan mal di seberang hotel Hampton Inn tempat kami tinggal, yang sedang menggelar summer sale.

Orlando, dan Florida memang dahsyat. Selain Disney dan Universal Studios, dan sedan Chrysler terbaru yang kami gunakan, saya suka Florida. Tapi repot kalau tak punya mobil sendiri di kota ini. Luas sekali kotanya, selalu melalui free way dan highway, tak bisa jalan kaki. Asiknya selalu panas disini seperti di Indonesia saja, banyak orang Hispanik, tempat wisata asik, tapi termasuk kota yang juga mahal biaya hidupnya.

Mengunjungi Minot di negara bagian North Dakota cerita lain. Semua orang yang mengetahui kami mengunjungi kota ini, heran dengan apa yang akan kami lakukan di kota kecil ini. Bahkan orang Amerika sendiri kebanyakan belum pernah berkunjung ke kota di perbatasan dengan Kanada ini. Dingin sekali saat musim dingin, kata Ronnie host lokal kami disana, bisa sampai -40 derajat Fahrenheit suhu saat itu. Bayangkan orang tropis seperti kami ada disana saat musim dingin, sudah beku jadi frozen meat kali.

Kota berpenduduk 35 ribu orang ini hidup dari pertanian yang didukung oleh IT untuk mengelolanya. Kami pun sempat mengunjungi ranch dan mencoba naik kuda, seperti di iklan rokok Marlboro itu, melihat kuda dan sapi minum di danau kecil di tengah padang rumput yang luas menghampar tanpa ada rumah dan siapapun selain kami. Amazing. Saya menyaksikan kehidupan desa Amerika yang sesungguhnya. Damai dan indah sekali, tapi bukan berarti saya mau tinggal disana. Bisa mati karena bosan saya di kota sesepi itu.

Seperti orang-orang desa pada umumnya, mereka sangat ramah dan hangat. Kami selalu diantar kemana-mana, karena memang tak ada sarana transportasi publik. Semua orang punya mobil disana, tapi meski begitu tak ada macet sama sekali.Jalanan lengang melompong. Kami pun dijamu di rumah-rumah mereka dan di taman kota dalam acara potluck picnic.

Media setempat, radio, 2 televisi, dan koran pun menjadikan kami sebagai berita dalam siaran mereka. Koran Minot Daily News menempatkan kami pada halaman pertama, kedua TV menyiarkan acara kunjungan kami pada siaran berita petang dan malam. Minot sangat unik, dan rasanya seperti memiliki keluarga baru nun di ujung utara Amerika sana.

Dan tibalah kami di kota kelima sekaligus penutup, Portland di tepi barat Amerika ini. Jatuh cinta pada pijakan pertama kami memasuki hotel, menikmati taman-taman yang cantik, menghirup udara segarnya, dan menyusuri lorong-lorong kotanya. Sempurna.

Besok siang hingga lusa kami akan kembali terperangkap di lambung pesawat dalam perjalanan ke Tokyo-Bangkok dan Jakarta. Kembali ke kehidupan nyata. Merayapi lagi keruwetan lalu lintas Jakarta, mengisi paru-paru dengan asap polusi dan segala macam persoalan yang menanti untuk diurus.

Puji syukur atas segala berkat yang tak henti-hentinya Tuhan limpahkan pada hidup saya. Semua karena kerja keras, kesabaran dan ketabahan saya melalui badai hidup yang pernah menghempaskan saya berkali-kali ke dalam jurang kehidupan, begitu kata sang malaikat dalam YM nya kemarin. Meskipun masih tertatih tapi roda kehidupan itu sudah berputar. Bergulir di jalurnya, menuju ke tujuan yang telah saya tetapkan. Alhamdulillah..

Surat Untuk Bapak dari Portland

Baca blognya Rani, dan satu-satunya posting disitu tentang rasa rindunya sama sang Bunda yang telah berpulang setahun lamanya. Saya terdiam dengan mata basah. Saya tahu sekali apa yang dirasakan Rani. Rasa kehilangan itu tak akan pernah usai. Jangankan satu tahun, tujuh tahun berlalu pun saya masih berjuang untuk menyadari bahwa Bapak sudah tiada.

Saya tak akan pernah mendengar suaranya lagi. Tak akan mencium tangannya lagi bila pulang ke rumah, menyaksikan tawa lebarnya yang khas. Saya rindu tegurannya bila saya keras hati ingin sesuatu, dan itu tak berkenan di hatinya.

Tepat 21 Juli 2008, tujuh tahun sudah Bapak berpulang, dan saya masih mengenangnya dengan tangis. Bulan Juli selalu saya tandai dengan kerudung hitam tanda duka. Tujuh bulan Juli sudah saya lalui tanpa Bapak. Saya selalu mengingatnya, dimanapun saya berada.

Tahun ini saya melaluinya di Amerika, di Washington DC. Begitu juga 21 Juli 2003, saya juga melaluinya di Amerika, di Los Angeles. Entah kenapa sudah dua kali 21 Juli saya lalui di Amerika. Apakah ini pertanda ?

Dan saya selalu menangis. Seandainya Bapak bisa menyaksikan langkah kecil anak perempuannya yang keras kepala ini telah membawa saya ke tanah impian, dan mewujudkan cita-citanya menjelajah dunia.

Saya ingin bercerita pada Bapak betapa indahnya Portland, menariknya museum-museum di DC, dan canggihnya pertanian di North Dakota.

Hanya Bapak yang paham mimpi besar anak perempuan tengahnya ini. Cita-citanya menjadi wartawan, melanglang buana menyerap saripati dunia. Bapak yang mendukung keinginan saya dengan membelikan tape recorder dan kamera Nikon FM 2 untuk saya belajar memotret.

Ingin kuceritakan pada Bapak kalau saya ada di siaran berita TV dan koran di media lokal di Minot North Dakota. Beliau pasti senang, seperti Bapak juga bangga sekali ketika aku masuk TV ikut kuis Siapa Berani dan dapat hadiah televisi, 7 Maret 2001.

Ah Bapak, tak pernah redup rasa rindu ini untuk mengenangmu. Semoga Bapak damai disana, dan melihat anak-anak Bapak dengan senyum bahagia. Anak Bapak gak boleh cengeng kan ya Pak, gitu kan Bapak pernah bilang.

Tapi maaf kali ini Neng nangis ya Pak. Neng kangen sama Bapak, pengen berlutut di kaki Bapak, dan cium tangan Bapak. Neng mohon doa restu..Mungkin Neng akan kembali ke Amerika dan membesarkan cucu-cucu Bapak disini.

Wonderful Florida

Kota ketiga dalam perjalanan saya bersama dua orang rekan wartawan online lainnya di Amrik, adalah Orlando. Tapi sebetulnya kami tak tinggal di Orlando. Dan lokasi-lokasi pertemuan kami pun kebanyakan di luar kota. Maka tak heran bila penyelenggara menyediakan fasilitas mobil, yang disupiri oleh penerjemah sekaligus komandan perjalanan kami, selama kami di Orlando.

Hotel tempat kami tinggal, Embassy Suite Orlado North berlokasi di Altamonte Spring, Orlando coret. Tempat pertemuan pun hanya satu saja yang berlokasi di downtown Orlando, yaitu kantor koran lokal Orlando Sentinel.

Pertemuan dengan pembuat software kampanye berlangsung di kota kecil bernama Sanford, 30 menit dari Orlando. Kantor tim kampanye Obama untuk negara bagian Florida ada di Tampa, sekitar 1 jam dari Orlando. Poynter Institute,tempat pelatihan jurnalis di St.Petersburg, tepatnya di Tampa Bay, hampir dua jam dari Orlando.

Sanford kota kecil di Seminole County , dengan setting seperti di film-film Amerika yang sering saya lihat. Kota kuno dengan toko-toko kecil yang menjual barang-barang antik. Terlihat sepi. Di sudut jalan ada warung yang menjual es krim home made yang enak, dan taman kota yang asri. Lokasinya yang berada di bibir Danau Monroe, menjadikan udaranya segar meskipun banyak angin.

Poyinter Institute, tempat para jurnalis dari seluruh dunia mengikuti pelatihan, berada di kompleks University of South Florida St.Petersburg. Lokasinya benar-benar sempurna. Saya iri melihat kampus seindah ini. Ada banyak yacht yang terparkir di pelabuhan, dan persis di depannya berdiri Museum Dali.

Saya awam lukisan, hanya tahu nama Salvador Dali itu pelukis hebat. Tapi alirannya apa, lukisannya yang terkenal apa saja, saya benar-benar tak tahu.Karena kami datang 30 menit lebih awal dari waktu pertemuan, jadilah kami masuk ke Museum Dali itu untuk mengisi waktu. Setiap pengunjung membayar 10 USD untuk bisa masuk dan menikmati koleksi lukisan karya Salvador Dali. Kami juga membayar, tapi belakangan dikembalikan ketika tahu bahwa kami tamu dari Poynter Insitute.

Masuk ke museum itu membuat saya terpesona. Saya kehabisan kata-kata,..indah sekali. Apalagi sedang digelar pameran khusus tentang karya Dali yang bertema perempuan. Dahsyat, betah rasanya berjam-jam di museum yang terawat dengan baik dan ditata dengan cantik itu. Saya jadi menyesal hanya punya waktu 30 menit.

Toko souvenirnya pun lengkap. menggoda mata untuk membawanya pulang sebagai oleh-oleh. Harganya tak murah, tapi sangat layak untuk dibeli. Saya membeli dua helai dasi untuk dua orang bos di kantor. Dasi sutera dengan cetakan lukisan Dali. Mahal tentu tapi tak ada artinya dibanding untuk surat rekomendasi yang telah mereka tandatangani, dan telah menerbangkan saya ke Amerika menikmati perjalanan ini.

Di Tampa kami mengunjungi markas besar tim kampanye Obama, yang tak boleh kami ceritakan apa isinya, siapa saja yang kami temui dan apa yang kami bicarakan, seperti yang saya kisahkan disini.

Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke Hard Rock Hotel and Casino Tampa. Untuk pertama kalinya saya masuk kasino, dan telongong-longong liat kasino yang super luas itu. Berbagai mesin terpajang, dan terlihat cukup dipenuhi pengunjung yang kebanyakan orang tua.

Kami jadi membandingkan dengan kebanyakan orang-orang tua di Indonesia yang menghabiskan hari tua dengan momong cucu, ikut pengajian, atau rajin ke gereja ikut kebaktian. Tapi di Amerika orang-orang tua pada berjudi ke kasino.

Tentu saja tak bisa diklaim bahwa orang tua di Amerika semua seperti itu, mungkin ini hanya sebagian kecil saja. Tapi pemandangan orang-orang tua dengan tongkat, kursi roda, bahkan ada yang dengan penyangga leher pada asik di depan mesin-mesin judi itu rasanya cukup ajaib buat kami bertiga, hehehe..Gile kaya-kaya bener ya orang Amerika.

Hari terakhir, Sabtu 26 Juli 2008, adalah hari yang paling ditunggu, karena seharian kami ke Walt Disney World. Dari sekian area permainan yang letaknya cukup berjauhan, kami harus memutuskan ke area mana kami akan pergi. Karena setiap tiket hanya bisa untuk satu area, dan kami perlu satu hari untuk di setiap tempat. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kami memilih Magic Kingdom.

Tiket seharga 71 USD sudah disediakan oleh penyelenggara, kami tinggal datang dan bermain. Asiiiik. Seperti motto mereka "where dreams come true", ini rasanya seperti mimpi buat saya. Impian masa kecil saya yang sudah lama terlupakan akhirnya kesampaian. Saya tumbuh besar dengan komik Donal Bebek, dan film-film Disney yang waktu itu masih berbentuk video VHS dan betamax. Tokoh-tokoh seperti Minie and Mickey Mouse, Goofy, dan banyak lagi ada di keseharian saya. Dan di usia 33 ini akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di Disney World Orlando. Wooow...for free pula !

Dari Disney kami terus ke Universal Studios Side Walks.Sebetulnya tak sengaja. Tujuan awalnya hanya untuk ke HRC Orlando, membeli merchandise untuk my baby yang penggemar berat barang-barang bermerk HRC. Ternyata HRC Orlando lokasinya di spot yang super keren ini.

Malam mingguan di super blok yang meriah penuh warna dan hingar bingar musik live dari panggung terbuka, menikmati deretan resto dan toko yang dibangung mengelilingi sebuah danau, dan cuaca musim panas yang sudah lebih bersahabat, benar-benar malam yang tak terlupakan. Damn..what a perfect day ;)

Sayang sekali tak bisa menikmati malam lebih lama, meskipun sangat ingin. Kami harus pulang ke hotel dan mengepak koper kami yang sudah mulai penuh sesak. Subuh keesokan harinya kami harus terbang ke kota berikutnya, Minot North Dakota. Perjalanan dari ujung ke ujung benua Amerika. Orlando di selatan dan Minot di Utara perbatasan dengan Kanada. Penerbangan kami dengan Northwest transit di Mineapolis selama empat jam.

Fyuh.. masih banyak yang belum kami lihat dan nikmati di Florida, empat hari jauh dari cukup. Kami pun harus meninggalkan Chrysler abu-abu metalik yang keren itu pula. Saya pun kembali bermimpi, suatu saat bisa kembali ke Disney, Orlando dan Florida, dengan my baby dan anak-anak kami tercinta. It would be a perfect escape with the kids that remains in their heart for the whole life. Mulai nabung ya beib :)

Indianapolis, disini saya sekarang

Selamat pagi Indianapolis. Ini hari pertama saya bangun pagi di Indianapolis. Kemarin siang kami terbang 1,5 jam dari Washington dengan US Airways untuk tiba disini. Sekarang minggu pagi. Jumat lalu adalah program terakhir di Washington DC yang kami habiskan sepagian hingga makan siang di sebuah museum yang sangat bagus, Newseum.

Di Washington banyak sekali museum, dan saya yang kalau di Jakarta malas banget ke museum, disini saya sangat suka museum. Salah satunya Newseum, yaitu museum tentang berita dan para wartawan. Dunia yang saya geluti dan cintai.

Menjelajahi gedung 6 lantai yang terletak di Pennsylvania Avenue, jalan utama yang hanya sepelemparan batu dari Capitol ini, tak cukup waktu hanya 4 jam. Begitu banyak hal yang menarik untuk dilihat, ditonton, dinikmati, bahkan dicoba disini. Entah anda wartawan, pekerja media ataupun bukan, saya jamin anda akan suka. Mungkin satu-satunya museum tentang wartawan dan berita yang ada di dunia. Saya bermimpi untuk bisa kembali lagi ke sana dan menghabiskan waktu saya seharian disana.

Hari sabtu kami habiskan ke Washington National Park di Connecticut Avenue. Lagi-lagi saya yang tak suka ke kebun binatang, kecuali Taman Safari, kali ini bisa jatuh cinta dan betah sekali disini. Tempatnya sejuk, nyaman, bersih, dengan informasi dan pengetahuan yang disajikan sangat interaktif. Jadi pengunjung tak hanya melihat-lihat dan pulang tanpa informasi baru di kepala. Ada banyak alat yang digunakan untuk menyajikan pengetahuan tentang hewan yang dilihat. Layar yang touchscreen, teropong yang bisa diintip, mesin yang diengkol untuk kita tonton layarnya di dalam seperti mainan nonton film jaman aku anak-anak. Duh seneng banget liatnya.

Banyak bangku-bangku untuk istirahat, disebelahnya ada tong sampah yang rapi berjejer dan digunakan oleh pengunjung dengan semestinya. Juga ada kran-kran air minum tersebar dimana-mana untuk yang haus. Tak ada orang yang merokok, semua mematuhi aturan yang ditetapkan pengelola.Sehingga udara tetap bersih dan tak ada abu rokok yang berserakan. Padahal bonbin ini gratis, tapi benar-benar bisa terawat dan terjaga dengan baik.

Saya iri sama orang disini, bisa membawa anak-anaknya menikmati hiburan yang menyenangkan sekaligus mendidik ke tempat seperti ini. Bukan hanya mall seperti kemana anak-anak di Jakarta dibawa orang tua nya menghabiskan akhir pekan, dan hanya mendidik anak-anak menjadi manusia konsumtif. Maklum bonbin Ragunan nampaknya kurang nyaman untuk dikunjungi, saya pun sampai sekarang masih enggan untuk meluangkan waktu kesana.

Indianapolis adalah kota yang sama sekali berbeda dengan Washington DC. Saya tinggal di Hampton Inn di downtown. Depan hotel persis Hard Rock Cafe. Letaknya memang strategis, kemana-mana dekat. Dan fasilitas hotel disini lebih lengkap, dan murah. Ada sarapan pagi di hotel yang termasuk harga kamar, dan juga internet gratis di kamar.

Kemarin di Doubletree DC kami sarapan sendiri ke luar sambil jalan-jalan pagi, karena di hotel mahal dan menunya terbatas. Internet pun harus ke lobi untuk dapat koneksi gratis. Sampai akhirnya saya menemukan trik baru, dengan bangun jam 3 dini hari untuk bisa mengakses internet gratis dari kamar dengan mencari bocoran wi-fi.

Tapi disini rasanya terasa lebih Amerika. Orang-orang Afro Amerika nampak mendominasi disini dengan gaya bahasa slank nya, dan dandanannya yang bikin saya takjub saking ajaibnya. Dan saat ini ada ribuan orang hitam dari seluruh Amerika yang sedang berkumpul disini untuk Black Expo. Pesta tahunan untuk minoritas dari seluruh Amerika. Heboh memang, dan saya merasa jadi sangat putih disini, haha.. 

Washington..Finaly

Perjalanan panjang hampir 30 jam dengan menyinggahi 3 kota – Singapura, Tokyo, Mineapolis -itu akhirnya membawa saya sampai di Washington DC. Kota paling penting di Amerika sebagai pusat pemerintahan, yang bukan hanya sebagai pusat kekuasaan bagi orang Amerika sendiri, tapi seperti kita tahu disini pula digodok berbagai kebijakan luar negeri Amerika yang mempengaruhi kehidupan manusia di berbagai belahan bumi. Ya, disinilah saya sekarang.

Disini jam 3.34 pagi dan saya malah terbangun dari tidur saya yang baru 3 jam saja. Maklum masih di jetlag, di Jakarta sekarang ini jam 14.30 soalnya. Jam saya masih jam Jakarta, entah kenapa sulit sekali menggeser jarum penunjuknya untuk diputar sesuai kehendakku. Macet, padahal kuku saya sudah ledes untuk menarik tombol dan berusaha memutarnya.

Jadilah saya bergantung pada jam di handphone, yang sekarang dua-duanya bermasalah. Gara-garanya saya memang ceroboh sekali, lupa menutup botol minuman saya dengan sempurna. Botol yang berbentuk moncong untuk diminum seperti para pengguna sepeda itu harus diputar untuk tertutup dengan baik. Dan habis minum terakhir kalinya saya lupa memutarnya, saya hanya menaruhnya begitu saja di tas. Begitu sampai kamar denga bawaan dua koper, dan perintilan yang ribet, langsung saya lempar saja itu tas keatas kasur.

Lama saya diamkan, karena saya sibuk mandi, membuat kopi dengan mesin minum kopi yang buat saya sophisticated ini. Baru sadar ketika saya hendak mengecek sms, saya baru tahu menemukan handphone dan semua barang saya di tas, termasuk dokumen-dokumen penting seperti paspor dan tiket, basah ketumpahan air dari botol yang tidak tertutup dengan baik itu. Waladalah..stupido Nenden !

Paniklah saya mengeluarkan semua dokumen itu ke luar dari tas. Berusaha mengeringkannya dengan menaruhnya di bawah lampu duduk yang menyala. Dokumen-dokumen itu bisa kering tanpa kelunturan yang berarti, hanya wujudnya yang menjadi sangat keriting jelek. Tapi gak masalah yang penting masih terbaca. Masalah sesungguhnya adalah kedua hanphone saya tewas, hang, bermandi air aqua-nya Amerika itu.

Saya bongkar, buka baterainya, saya lap dan keringkan, dikeluarkan sim cardnya. Saya charge karena yang communicator memang low bat. Sempat bisa on, tapi ajaibnya sms-sms yang masuk ndak bisa dibuka. Tombol show di screen kecil yang di depan gak berfungsi aliast macet total. Sedangkan di screen besar yang di dalam dipencet apa yang keluar yang lainnya, begitu berulang-ulang sampai saya jengkel dan menyerah.

Saya hanya sempat membaca pengirimnya, one from my angel and two from my baby. I couldnt read what they write, and off course couldn’t reply. Hiks.. I miss my baby very much, wish he were here with me. He’s been traveled to so many cities in US and studied in Yale but he said never been to DC.

Hal lain, gara-gara posisi tidur yang miring kanan dan kiri yang asal, leher kanan saya tengeng kalau bahasa Jawanya. Awalnya tadi sore ketika mendarat di Bandara Nasional Reagan saya hanya merasakannya sebagai pegel biasa. Tapi pas saya tidur barusan, baru terasa kalau semakin parah, cenut-cenut luar biasa, dan saya gak bisa nengok sekarang.

Saya ingat seorang teman pernah mengatakan bahwa di Amrik sini ada sebuah obat salep seperti Counterpain untuk salah urat dan pegal-pegal itu, tapi saya lupa namanya. Teman saya mengatakan bahwa obat itu manjur dan bahkan tidak menimbulkan rasa panas di kulit seperti Counterpain. Ada yang ingat namanya apa obat itu ? I need it badly nih.

Moga-moga gak mahal, karena saya harus hidup sangat irit disini dengan uang per diem yang nampak banyak, tapi sebetulnya di dalamnya termasuk biaya hotel, makan dan tranportasi. Thanks to kantornya my angel yang udah nyangoni, secara kantor saya boro-boro inget nyangoni, bisa kasih saya pergi selama ini aja udah syukur hehehe..

Saya Punya Jendela Lagi

Sudah lama sekali rasanya saya tak menyaksikan langit Jakarta yang kelabu ini. Sebabnya sepele saja, karena ruangan di kantor saya bertahun terakhir ini tak memiliki jendela. Tempat yang berstatus kantor itu berupa ruangan 3X4 meter, berada di pojokan Gedung Bina Graha Lantai 2. Tak heran kalau ruangan ini windowless, karena dulu fungsinya adalah pantry bagi Presiden terlama republik ini.

Saking asiknya berkutat di pojokan ini, kami yang ada di dalamnya tak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana. Apakah hujan, panas terik, masih ada matahari atau sudah gelap, clueless..

Saya tak pernah menyadari betapa berartinya sebuah jendela bagi hidup saya, sampai akhirnya hari ini saya berada di kantor berjendela lagi. Ruangan di ketinggian lantai enam, di sebuah gedung di daerah Kuningan ini menjadi rumah baru saya untuk sementara, sebelum kemudian boyongan ke gedung baru lagi nanti.

Saya jadi teringat hari-hari saya beberapa tahun lalu, ketika masih berkantor di lantai 27 sebuah gedung di Jalan Sudirman. Setiap sore saya menyempatkan diri menyaksikan matahari terbenam di kepekatan polusi langit Jakarta. Tak seindah sunset di Ku De Ta Bali memang, tapi saya tetap menyukainya.

Kemudian perlahan gelap menyelubungi kota metropolitan yang tetap sibuk. Cahaya lampu dari kendaraan di jalanan mulai berbinar genit seperti kerlip bintang di langit. Saya suka sekali menyaksikannya merayap di kepadatan jalanan Jakarta saat bubaran kantor.

Cahaya saling menyilang membentuk garis terang di kegelapan Jakarta. Untuk saya itu adalah sebuah keindahan tersendiri dari kota yang tak pernah tidur ini. Kepala pun sesak oleh imajinasi, dan hati seringkali terbawa melankolis.

Jendela memuat banyak cerita untuk saya. Dari baliknyalah saya bisa menyaksikan banyak peristiwa. Manusia-manusia dengan berbagai ekspresinya, sedih, senang, bingung, marah, putus asa, apapun. Kisah-kisah manusia yang sedang menjalani takdirnya. Saya menjadi penonton dari panggung sandiwara kehidupan tanpa skenario ini.

Saya bisa termenung berlama-lama di depan sebuah jendela. Memandang langit yang buram atau cerah, jalanan yang sepi ataupun padat, gedung-gedung megah ataupun gubuk reyot, semuanya saya nikmati dengan pikiran yang kadang jauh menerawang.

Jendela adalah sumber inspirasi buat saya. Untuk menulis, untuk mengatakan sesuatu, untuk berpikir tentang sebuah ide baru, atau untuk segera pulang dan beristirahat. Ada banyak pesan yang disampaikan sebuah jendela untuk saya. Malaikat tanpa sayap, setan-setan gentayangan tanpa trisula tergenggam, semua bahasa alam yang sedang saya coba selami dan pahami.

Terima kasih Tuhan telah mengembalikan jendela ini dalam kehidupan saya. Masih banyak cerita yang belum terungkap dari sang jendela ini yang ingin saya gali dan kisahkan kembali.

Berusaha Untuk Fokus

Waktu yang dipunyai semua orang yang hidup ini sama, 24 jam saja sehari semalam. Dulu dalam waktu 24 jam itu saya bisa melakukan lebih banyak hal karena energi dan gairah muda saya masih meledak-ledak. Banyak aktivitas yang saya kerjakan, bergabung di banyak komunitas, mencoba ini itu dengan tujuan menambah pengalaman dan memperluas pertemanan serta jejaring.

Ya, saya memang jadi banyak teman dan pengalaman. Senang sekali rasanya menjadi orang yang cukup dikenal di banyak kalangan. Saya muncul di banyak acara dan tampil di beragam kesempatan. Hidup rasaya begitu kaya dan penuh warna. Itulah masa-masa 20an saya.

Tapi kini seiring bertambah usia dan pengalaman, saya belajar satu hal. Sekarang saatnya saya harus fokus. Fokus pada tujuan hidup yang ingin saya capai. Saat ini sudah waktunya bagi saya untuk berjalan pada arah yang benar, sesuai apa yang saya mau.Sudah lewat masa-masa gaul dan tampil sana sini tanpa tujuan yang jelas. Hanya untuk menambah daftar teman dan jejaring, sudah bukan prioritas saya lagi. Bukannya saya tak butuh teman, tapi tak semua teman juga supportif dan konstruktif kok. Jadi sekarang selektiflah untuk memilih teman dan lingkungan bergaul. Kalau hanya buang waktu dan duit, mendingan nggak.

Saya mendingan dicap sombong daripada hanya berusaha menyenangkan orang lain tapi kemudian membuat saya bergeser dari fokus. Saya punya rencana dan tujuan dalam hidup, dan itulah yang menjadi garis besar haluan keseharian saya saat ini. Saya sadar 24 jam itu tidak banyak, malah sangat terbatas. Saya tak ingin menyia-nyiakannya.

Mungkin saya terdengar sangat kaku. Tapi saya sudah pernah menjadi orang yang sangat fleksibel, diajakin apapun mau. Ikut berbagai kegiatan apa saja oke. Ngumpul dengan teman-teman baru dari berbagai kelompok. Dan semua itu sudah cukup.

Prioritas waktu, energi, dan pikiran saya sekarang hanya ingin bersama dengan orang-orang yang terkait dengan pekerjaan saya. Dan orang-orang tercinta yang sudah teruji oleh waktu ketulusan pertemanan mereka. Para sahabat yang memang supportif,konstruktif, dan inspiratif. Tak lupa belajar menjadi bijak dari para guru yang kenyang makan asam garam kehidupan itu.

Maaf saya tak ada waktu lagi untuk meladeni manusia-manusia gak jelas yang hanya membuang-buang waktu, energi dan pikiran saya, dan membuat saya terpeleset dari fokus. Saya ingin menjaga diri saya on track. Bila anda inline dengan jalur yang saya jalani dan tujuan yang ingin saya gapai, yuk mari sama-sama kita saling mendukung. 

Tapi kalau hanya ingin merintangi, mengganjal, mempersulit, maaf saya tak akan menggubris anda. Waktu saya lebih berharga untuk mengurusi prioritas-priorits hidup saya, dan manusia-manusia lain yang memang telah melalui seleksi alam itu.

Maaf bila anda tak terpilih menjadi yang lulus seleksi. Mungkin kita hanya berbeda minat dan tujuan dalam hidup. Bukan berarti saya salah dan anda benar, atau sebaliknya. Ini bukan soal salah atau benar.Tak usah bermusuhan, tapi juga tak perlu dipaksakan untuk bersama, pertemanan pun butuh chemistry kan ? We're just different :)

Reader's Theory

"Jangan berusaha untuk menyenangkan pembaca," ini masih kata GM di sesi di TUK minggu lalu itu. GM menyebutnya Reader's Theory. Seorang GM mungkin bisa dengan pede nya mengatakan itu. Bahwa dia tidak berusaha menyenangkan pembaca dengan tulisan-tulisanya. Dia menulis apapun yang membuatnya marah, senang, sedih, prihatin misalnya. Seperti belakangan dia menuliskan kegeramannya tentang ulah FPI dan para penentang Ahmadiyah itu.

Paling enak memang seperti itu. Menulis itu pada intinya untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Tak heran bila kemudian sering disebut orgasme intelektual, karena menuangkan pikiran-pikiran yang memenuhi kepala dan setelah terwujud dalam sebuah tulisan si penulis pun kemudian merasa senang dan puas.

Apakah kemudian pembaca yang membaca tulisan hasil orgasme itu juga turut merasakan kepuasan dan kesenangan yang sama ? Tentu tak ada yang bisa menjamin. Dan sebaiknya tak usah dipikirkan. Karena kita tidak dalam kapasitas untuk menyenangkan dan memuaskan semua orang yang membaca tulisan kita.

Sebagai penulis wannabe seringkali saya merasa terganggu oleh orang-orang yang mengkritik tulisan-tulisan saya. Dulu dengan mudahnya saya kemudian menerima semua kritik itu tanpa filter. Saya menelan bulat-bulat pendapat para pembaca yang kritis itu, dan tanpa disadari pendapat mereka kemudian "menyandera" kreativitas saya. Karena kemudian saya jadi sangat hati-hati untuk tidak dikatakan takut.

Saya seperti kehilangan kebebasan dan identitas diri, karena saya merasa berada dalam pengawasan mikroskop. Saya tahu mereka ada di luar sana, memperhatikan saya, menunggu tulisan-tulisan saya muncul untuk kemudian mereka komentari. Saya jadi disetir oleh sebuah keinginan, berusaha membuat para kritikus saya puas dan senang. Kondisi yang tentu saja tidak sehat.

Dalam sesi itu saya tergelitik untuk bertanya pada GM tentang teori pembaca ini. Saya menanyakan bagaimana dia "berdamai" dengan pendapat orang-orang yang membaca karyanya, yang tentu tak semuanya suka dan setuju dengan isi tulisan-tulisannya itu.

Menjawab pertanyaan itu, sekali lagi GM menegaskan mengenai tidak ada perlunya untuk berusaha menyenangkan pembaca. Percuma, karena hanya akan melelahkan pikiran, bukankah kepala orang berbeda isi dan warna. Mau menyenangkan pembaca yang mana ?

"Bersikaplah demokratis terhadap pembaca," kata GM. Dalam arti kita juga menghargai pendapat mereka tentang tulisan kita. Itu adalah hak pembaca untuk berkomentar, untuk menilai tulisan kita. Begitu juga pembaca harus menghargai pendapat dan pendirian si penulis dalam tulisan-tulisannya. Intinya antara pembaca dan penulis harus saling menghargai.

Jadi saya tak perlu minta maaf pada anda pembaca blog saya yang merasa tak senang dan tak terpuaskan oleh posting-posting saya.Karena adalah hak saya untuk menulis apapun yang ingin saya tulis. menuangkan pendapat, kegundahan hati dan perasaan terdalam sekalipun.

Silahkan berkomentar apapun terhadap tulisan-tulisan saya. Saya menghargai apapun pendapat anda, dan tak akan pernah memaksa anda untuk suka dengan tulisan-tulisan saya, bila anda memang tak suka. Seperti anda juga tak bisa memaksa saya untuk menulis dengan cara yang seperti anda inginkan.

Kata GM " Takut boleh tapi tak menyerah. Takut tapi tidak berarti takluk".. Setuju sekali Mas Goen !

Empiris Sebagai Awal Tulisan Yang Baik

Saya ingat masih punya hutang posting-posting lanjutan tentang sesi kuliah siang bersama GM di TUK minggu lalu. Sialnya saya begitu ceroboh, karena notes dimana tercatat pointer-pointer penting dari sesi itu, hilang pada saat liputan rapat kabinet gak jelas 3 hari lalu.

Suasana memang agak chaos saat itu, ketika para wartawan terutama kameramen, mendadak brutal dorong sana sini, injak sana sini demi mendapatkan rekaman terbaik dari Kapolri yang kalem itu. Nenden yang mungil ini tentu saja terdepak dengan sukses dan memilih untuk mundur daripada kepala jadi korban kamera-kamera yang bergerak liar itu. Pasrah entah dimana notes yang berharga itu berada dimana sekarang.

Saya merekam sesi itu sih, tapi rekaman audio yang saya miliki pun kurang lengkap dengan kualitas yang kurang baik. Jadi saya akan menulis posting ini dengan apa yang tersisa di sudut kepala, yang rasanya tertancap cukup baik karena sangat mengena dan berbekas.

Ketika menulis, GM menekankan pentingnya berdiri diatas sikap empiris. Membuka diri untuk segala kemungkinan, bahkan ketika harus mengakui kesalahan diri sendiri.Memiliki hipotesa boleh, tapi namanya juga hipotesa tentu kita harus menyadari bahwa itu bersifat sementara.

Sebuah tulisan yang diawali dengan empiris, maka ketika dalam proses pengumpulan data dan pencarian bukti-bukti kemudian ditemukan berbagai fakta yang mementahkan hipotesa kita, kita siap. Tetap menuliskannya berdasarkan hasil riset itu apa adanya. Menjalinnya menjadi sebuah cerita yang utuh dengan data akurat dan pijakan yang empiris itu tadi.

Menurut GM, dan saya setuju 1000 persen, bahwa seringkali media saat ini atau bahkan penulis dan jurnalis pada umumnya, mengawali tulisannya dengan sebuah teori konspirasi di kepala. Dan teori itu sudah dibakukan di depan, sehingga penelusuran data dan penelitian mendalam selanjutnya hanya untuk membenarkan teori yang sudah tercetak di otak. Data dan fakta yang kemudian menegasikan teori dinafikan dari proses penulisan, jangankan dimasukkan, ditengok pun tidak.

Belum-belum sudah menutup diri akan berbagai kemungkinan akan adanya penemuan teori baru dari isu yang sedang ditulis. Pagi-pagi sudah membatasi kepala hanya memikirkan yang terkait dengan hal yang ingin dibenarkan."Itu teori intel jaman orde baru," kata GM.

"Dibikin teori dulu, setelah itu dicari calon tersangka yang kemudian dipaksa dan diintimidasi untuk ngaku seperti teori yang mereka mau," katanya tenang meskipun saya menangkap kegeraman di dalam suaranya.

Saya mencatat dalam diam. Mengamini pernyataannya. Ya, saya sendiri mengakui, bahwa seringkali saya memulai sebuah tulisan dengan sebuah prasangka di kepala. Pikiran sudah merancang sebuah skenario yang ingin saya buktikan "kebenaran" nya. Tujuan pun sudah ditetapkan di muka, apa yang ingin saya capai dengan tulisan yang akan dibuat.

Menghantam orang yang telah membuat saya kesal hari ini, misalnya. Otomatis kepala saya pun hanya akan bergerak mencari data-data yang sesuai dengan niatan awal itu. Semua rekaman kata-katanya yang pedas, sikapnya yang menyebalkan, dan semua hal negatif tentangnya itulah yang kemudian terangkat ke permukaan. Dan tentu saja saya mengabaikan data dan fakta positif tentangnya, meskipun nampak gamblang di depan mata. Wong saya lagi kesal dan ingin menumpahkan kemarahan atas kekesalan hati yang disebabkannya kok.

Penulis yang baik tak akan melakukan hal itu. Karena untuk sebuah tulisan yang baik, harus dibangun diatas pijakan data dan fakta yang akurat dan objektif. Urusan mengemasnya menjadi sebuah tulisan yang enak dibaca dan perlu, itu skil yang lain lagi.

Sepertinya saya masih harus berusaha keras untuk menjadi wartawan dan penulis yang baik. Secara saya ini masih mudah tersinggung, dengan emosi yang meledak-ledak. Dan ketika saya geram, tulisan saya bisa sangat tajam menusuk hati. Tak terlupakan bagai pedang samurai yang merobek jantung korbannya dengan hanya sekali tebas. Dan ketika emosi reda dan hati sudah dingin, seringkali saya menyesalinya.Hiks..hiks..maafkan.

Belajar jadi penulis yang baik ya Nenden from now on. Belajar sama-sama yuk :)